
LPPM Unram Gelar The 10th International Conference on Science and Technology (ICST 2025): Perkuat Kolaborasi Sains dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Kepulauan
Mataram, Rabu-Kamis, 19-20 November 2025. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram kembali sukses menyelenggarakan The 10th International Conference on Science and Technology (ICST 2025) dengan tema “Innovative Earth and Environmental Sciences, and Technological Advancements for Sustainable Development: Bridging Fundamental and Applied Sciences in the Archipelagic Regions.”
Para keynote speakers yang hadir dalam The 10th International Conference on Science and Technology (ICST 2025) berasal dari berbagai negara dan bidang keilmuan. Mereka adalah Assoc. Prof. Dr. Nicolas Baldovini dari University Côte D’Azur, Prancis, seorang pakar Chemistry; Prof. Dr. Shaiful Jahari bin Hashim dari Universiti Putra Malaysia, Malaysia, ahli Network Engineering; serta Prof. Masayuki Yanagisawa dari Kyoto University, Jepang, yang berfokus pada bidang Environmental Science. Dari Indonesia, hadir Prof. Muhamad Ali, Ph.D dari Universitas Mataram yang menggeluti Molecular Biotechnology, dan Assoc. Prof. Dr. Mohd Asri Mat Teridi dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Malaysia, yang mendalami bidang Solar Energy.
Sementara itu, jajaran invited speakers terdiri atas para akademisi terkemuka dari Indonesia, Irak, dan Malaysia. Mereka adalah Prof. Dra. Susilawati, M.Si., Ph.D, pakar Material Science dari Universitas Mataram; Prof. Dr. Dra. Tri Mulyaningsih, M.Si, ahli Biology dari Universitas Mataram; serta Prof. Dr. Matheus Souisa, M.Si yang berfokus pada Geo Physics dari Universitas Pattimura. Selain itu, hadir pula Assoc. Prof. Faisal Al-Sharqi, Ph.D dari University of Anbar, Irak, yang meneliti fuzzy mathematical dan aplikasinya dalam pengambilan keputusan, serta Assoc. Prof. Dr. Iskandar Shahrim Mustafa dari University Sains Malaysia, Malaysia, seorang pakar di bidang Medical Physics.
Ketua Panitia ICST 2025, Mamika Ujianita Romdhini, Ph.D, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini mencatat partisipasi 225 peserta dari 11 negara, yaitu Australia, Bangladesh, Prancis, Indonesia, Irak, Italia, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Inggris. Dari jumlah tersebut, 99 peserta hadir langsung, sementara 126 lainnya bergabung secara daring. Adapun materi yang disampaikan pada hari ini mencapai 191 paparan hasil penelitian. “Ini konferensi yang ke-10 dilaksanakan oleh LPPM Unram. Tiap tahun kita mengikuti perkembangan termasuk kebijakan pemerintah dan Universitas Mataram,” ujarnya.
Dr. Mamika menekankan bahwa ICST 2025 diarahkan secara khusus pada isu-isu terkait wilayah kepulauan. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tantangan geografis yang kompleks, sains dan teknologi perlu diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan strategis di wilayah tersebut. “Jadi kita mencari keynote speaker dari berbagai bidang yang relevan. Semua berkolaborasi untuk menerapkan teknologi di daerah kepulauan,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa 191 pemateri yang terlibat membawa hasil-hasil riset terbaru yang berpotensi mendukung kebijakan di tingkat universitas, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat. “Hasil penelitian ini sangat dibutuhkan untuk daerah-daerah kepulauan,” tegasnya.
Kepala LPPM Unram, Dr. Andi Chairil Ichsan, menekankan bahwa konferensi ini merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional bahkan global. “Dengan keterlibatan 11 negara, maka kontribusinya tidak hanya skala daerah, melainkan juga global. Kita ingin merespons persoalan-persoalan lingkungan dunia melalui pengembangan teknologi dan sains,” ungkapnya. Ia menyoroti bahwa isu perubahan iklim saat ini menjadi pusat perhatian dunia. Solusi berkelanjutan harus dimulai dari penataan lingkungan sebagai akar dari berbagai persoalan lainnya. Selain itu, penelitian-penelitian dari berbagai negara berpotensi untuk diimplementasikan di daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). “Mungkin saja beberapa hasil riset ini bisa kita implementasikan di NTB,” tambahnya. Dr. Andi juga menekankan bahwa pembahasan pada konferensi ini sejalan dengan visi NTB menuju Net Zero Emission (NZE) 2050, lebih cepat dari target nasional yaitu tahun 2060. “NTB berani naik 10 tahun. Kontribusinya bisa dilihat dari hasil-hasil riset yang kita kumpulkan,” ujarnya menutup kegiatan.
